Archive for Maret 2014
The Dream Team
Pengaturan tim dalam sebuah organisasi adalah hal mutlak yang diperlukan oleh setiap lembaga kemahasiswaan, tidak terkecuali Lembaga Dakwah Kampus. Lembaga Dakwah Kampus (LDK) sebagai mercusuar keislaman mahasiswa sejatinya menjadi indikator seberapa hidup dan aktifnya kader-kader bergerak dalam lansekap pergerakan mahasiswa. Selain harus didukung oleh sistem organisasi yang unggul, Dakwah Kampus harus didukung oleh kader-kader yang mumpuni dalam menjalankan tugas dan kinerjanya sebagai satu kepaduan yang kompak membentuk sebuah tim yang didambakan oleh semua kalangan, sebuah tim impian (The Dream Team). Bisa kita bayangkan, bagaimana jadinya jikalau dakwah kampus tidak memiliki pola pengembangan dan pendidikan yang aplikatif dan unggul ketika dihadapkan kepada permasalahan-permasalahan klasik mau pun aktual. Tuntutan masa studi yang cepat, misalnya, mengakibatkan sempitnya alokasi waktu yang dimiliki para kader untuk melakukan pengembangan skill dan kompetensi yang dimilikinya.
Sirkulasi kader yang relatif cepat mengharamkan terjadinya proses kaderisasi yang laun dan lambat, padahal durasi atau lamanya proses kaderisasi sangat mempengaruhi valensi dan mutu kader yang dibina. Jika masalah tersebut tidak dapat diatasi oleh sistem organisasi yang unggul, tidak menutup kemungkinan terlahirlah kader-kader kilat atau yang biasa popular dengan sebutan “kader karbitan”. Disinilah budaya organisasi diuji.
Tim impian adalah sebuah rumah yang dihuni oleh orang-orang yang memiliki visi dan semangat prima. Mereka dibesarkan dengan etika organisasi yang dipegang teguh untuk dijadikan sebagai komitmen bersama. Mereka dilatih dengan berbagai dinamika kepengurusan yang terjadi tanpa diduga. Tim impian tidak berarti tak mengenal konflik, karena mereka terdiri dari orang-orang unik dengan segudang pemikiran kritisnya. Adu argumentasi adalah hal yang biasa. Mereka hidup dengan konflik yang elegan, yakni konflik yang bersumber karena perbedaan cara pandang dalam kesamaan gagasan. Hal tersebut mudah terjadi karena kritis dan taat adalah dua seragam yang melengkapi kekuatan mereka. Mereka kritis terhadap permasalah-permasalahan yang menimpa mereka, dan mereka taat serta patuh terhadap keputusan bersama. Mentalitas dan kualitas diri mereka sangatlah teruji. Mereka harus pandai menahan arogansi dan eksistansi diri, karena jika tidak maka runtuhlah pondasi kekuatan mereka.
Ibarat sebuah tim dalam kesebelasan sepak bola, seorang penjaga gawang misalnya, dia hanya bertugas untuk menjaga tiang gawang agar tidak terjadi kebobolan, dia tidak akan berambisi dan tergoda untuk maju untuk melesakkan gol ke gawang lawan, karena ia tahu jika hal tersebut dilakukan, maka ia dan seluruh timnya bisa mendapatkan serangan balik yang secepat kilat akan berujung pada kekalahan tim.
Untuk menjadi tim impian, Dakwah kampus harus memiliki sosok pemimpin yang memiliki karakter yang kuat, disiplin waktu, percaya diri, ambisi, dan penuh visi (strong leadership). Sosok yang penuh kharisma dan wibawa yang kuat, membuat tim bergerak tanpa asas keterpaksaan. Namun sayangnya, tidak semua pemimpin memilki keterampilan memimpin, adakalanya ia menjabat sebagai pemimpin tapi hanya menjadi simbol organisasi yang tidak memiliki kekuatan apa pun. Secara de jure, ia terdaftar sebagai seorang pemimpin, tapi secara de facto, dia tidak memiliki kekuatan apa pun untuk mengatur timnya. Bak pepatah mengatakan bahwa pemimpin tidaklah dilahirkan, tapi ia diciptakan. Ini artinya, keterampilan memimpin bukanlah bakat khas yang dimiliki oleh orang dengan identitas tertentu, bukan pula oleh orang dengan posisi tertentu. Keterampilan memimpin didapat dengan pisau asah yang tajam, proses tempaan yang lama dan berulang. Namun terkadang, kita tidak terlalu sabar untuk menempuh proses panjang dan sulit tersebut.
Setiap diri kita berpeluang untuk memiliki kepemimpinan yang kuat (strong leadership), karena kita dipimpin oleh ide, tidak dipimpin oleh sosok. Artinya, kita semua memiliki ide Islam yang bersumber dari cahaya keimanan, ide Islam yang dituntun oleh Allah swt. Hal tersebut secara langsung akan membentuk kerangka berpikir kita untuk berproses menjalani pembelajaran hidup.
Sobat, untuk menjadi pemimpin yang berwibawa dan berkharisma, kita tidak perlu memiliki jenggot yang lebat, tubuh yang kekar dan jangkung. Jadilah pribadi dewasa yang sederhana, yang tidak mencari kesempurnaan di mata manusia. Jadilah pribadi yang mencuri perhatian penduduk langit, pribadi yang tampil apa adanya, namun tiada cela dimata Allah swt. Mari perbaiki niat diri, mari kita berbenah.
SAYA - DAKWAH KAMPUS - SUKSES!!
Singgah di Pit Stop
Apakah Anda penggemar Grand Prix? atau sesekali pernah menonton Grand Prix? Kejuaraan mobil super cepat Formula 1 yang diikuti oleh puluhan negara dan diminati oleh jutaan pasang mata di berbagai belahan dunia. Jika ya, selain mengenal siapa pembalap yang Anda Jagokan, Anda juga pasti mengetahui sebuah fitur paling menegangkan, yakni Pit Stop. Pit Stop merupakan salah satu fitur GrandPrix yang paling menegangkan sekaligus menarik. Menang dan kalah kerap ditentukan oleh pit stop dan pit crews. Bayangkan, hanya dalam hitungan detik, sejumlah aktivitas krusial harus dilakukan oleh pit crews dengan sempurna, tidak boleh ada satu kesalahan kecil sekali pun.
Tingkat kerumitannya berada pada level advance, tidak percaya? Mari kita simak durasi dan aktivitas yang harus dikerjakan, pra, saat dan pasca pit stop. Satu lap sebelum jadwal memasuki pit stop, tim mengkonfirmasi pembalap untuk bersiap memasuki pit stop melalui radio. 10 detik, mobil balap memasuki jalur pit. 3 detik, mobil memasuki garasi. 0 detik (saat pit stop), pembalap mengatur gigi pada kondisi netral dan menginjak pedal rem. “wheel gun crews’ menggunakan senjata udara untuk mengangkat mur roda, pada saat yang sama, mobil diangkat dengan dongkrak. 1,5 detik, selang pengisi bahan bakar dihubungkan. 2 detik, wheel off crews mengangkat keempat roda, wheel on crews menempatkan roda baru. Crew yang lain membersihkan kaca helm. 3 detik, keempat roda sudah terpasang, wheel gun crews mengencangkan mur roda. Setelah selesai, mereka mengangkat tangan untuk memberi sinyal bahwa semua berjalan lancar. 4 detik, semua roda sudah terpasang, dongkrak menurunkan mobil. 5,5 detik, lollipop man memberikan sinyal kepada pembalap untuk memilih gigi satu. 6,5 detik, selang pengisi bahan bakar dicabut, dalam durasi 0,3 detik pembalap harus tancap gas. 7 detik, mobil berada di jalur lintasan, tutup bahan bakar tertutup otomatis, pembalap siap kembali ke arena balapan.
Tingkat kerumitannya berada pada level advance, tidak percaya? Mari kita simak durasi dan aktivitas yang harus dikerjakan, pra, saat dan pasca pit stop. Satu lap sebelum jadwal memasuki pit stop, tim mengkonfirmasi pembalap untuk bersiap memasuki pit stop melalui radio. 10 detik, mobil balap memasuki jalur pit. 3 detik, mobil memasuki garasi. 0 detik (saat pit stop), pembalap mengatur gigi pada kondisi netral dan menginjak pedal rem. “wheel gun crews’ menggunakan senjata udara untuk mengangkat mur roda, pada saat yang sama, mobil diangkat dengan dongkrak. 1,5 detik, selang pengisi bahan bakar dihubungkan. 2 detik, wheel off crews mengangkat keempat roda, wheel on crews menempatkan roda baru. Crew yang lain membersihkan kaca helm. 3 detik, keempat roda sudah terpasang, wheel gun crews mengencangkan mur roda. Setelah selesai, mereka mengangkat tangan untuk memberi sinyal bahwa semua berjalan lancar. 4 detik, semua roda sudah terpasang, dongkrak menurunkan mobil. 5,5 detik, lollipop man memberikan sinyal kepada pembalap untuk memilih gigi satu. 6,5 detik, selang pengisi bahan bakar dicabut, dalam durasi 0,3 detik pembalap harus tancap gas. 7 detik, mobil berada di jalur lintasan, tutup bahan bakar tertutup otomatis, pembalap siap kembali ke arena balapan.
Banyak orang beranggapan bahwa semakin cepat durasi pit stop, semakin besar potensi untuk memenangkan balapan. Namun, cepat saja ternyata tidak cukup. Pit stop harus efektif, akurat dan cepat atau dengan kata lain, dilakukan oleh orang-orang yang cakap. Itulah pit stop berkualitas. Begitu pun dalam perjalanan kehidupan kita, di sela kesibukan kita dalam menjalankan agenda kehidupan, ternyata ada baiknya kita menyempatkan waktu walau sejenak untuk memasuki jalur pit stop untuk melakukan pembenahan dan penyesuaian diri. Adakalanya kita terus menerus ‘kalah’ dalam berbagai ‘pertarungan’, baik dalam hal kuliah, dakwah juga maisyah. Misalkan, IPK terus melorot, padahal sudah memasuki semester akhir. Amanah dakwah banyak yang tidak terselesaikan dan berujung tidak maksimal, bersamaan dengan kondisi keuangan yang seret. Lalu ditambah dengan adanya perasaan gundah akibat tidak kunjung mendapatkan kepastian untuk mendapatkan calon istri/suami yang diidamkan. Maka, ketika itu terjadi, mari kita coba tengok ke belakang, adakah satu dari beberapa tingkah laku kita yang menyalahi tikungan-tikungan rute visi hidup kita? Adakah niat kita yang berbelok dari garis awal keridhan Allah swt? Untuk siapa dakwah kita? atas alasan apa kuliah kita? jika terdapat kekeliruan, maka tandai dan benahi agar di hari esok kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, jika tidak, maka jangan lantas bergembira, karena di depan, masih ada jalanan yang terjal dan berliku yang menunggu kita.
Memasuki jalur pit stop, artinya kita memantapkan kembali semangat dan amal agar sesuai dengan arena kita sebagai seorang muslim paripurna. Muslim yang memberikan ketaatan semata-mata hanya kepada Allah, menjalani ragam kehidupan dengan syariat yang Allah tentukan, dan menantikan kehidupan akhirat yang Allah gariskan. liLlah, biLlah, ilaLlah.
Beristirahat sejenak memang penting, namun jika terlalu lama akan mendatangkan celaka karena terlalu lama beristirahat artinya memberikan kesempatan bagi rasa malas untuk membombardir susunan keyakinan yang sudah ditata. Seperti halnya dalam sebuah kapal, kemalasan bagaikan ton-ton jangkar penambat yang menyebabkan kapal tersebut malah teronggok dan tenggelam di sisi dermaga. Padahal sebuah kapal dicipta untuk berlayar di samudera biru yang luas menuju pulau yang dituju. Kemalasan membuat kita berdiam diri terlalu lama hingga kehilangan gairah dan semangat untuk bergerak meraih pencapaian hidup, lalu membiarkan pohon impian kita berguguran menyisakan ranting-ranting penyesalan.
‘Istirahat’ yang berkualitas adalah pit stop yang berkualitas, mari menjalani pilihan hidup dengan pertimbangan yang matang, dengan menjadikan dakwah sebagai poros usia, memilih pendamping hidup terbaik untuk kita jadikan sebagai partner dan ibu bagi anak-anak kita, serta memilih kesibukan yang berkorelasi dengan visi hidup kita. Berat atau ringan, semuanya melahirkan keputusan yang akan menentukan kehidupan kita nanti.
The time to life at its simplest meaning, the crucial moment that determines our fate in living afterlife. Oh Allah, keep us in firm on the straight path and make us as inhabitant in Your eternal Jannah. Amiin, yaa mujibassa'ilin.
Posted by abu_razzan
Meraih Syurga -
al imanu yazid wa yanqus... yazidu bi at tho'at wa yanqus bil ma'siyat.
"Keimanan itu bertambah dan berkurang,
Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan."
Lisan yang senantiasa basah dengan dzikir, hati yang senantiasa bersih dan putih hanya akan didapatkan oleh mereka yang menjadikan muhasabah sebagai bagian dari ritme hidupnya. Manusia adalah tempat salah dan khilaf, namun tentu bukanbi'ahnya seorang muslim jika ia selalu berkubang dalam kekhilafan dan kemaksiatan yang menutupi hati dan akalnya.
Muhasabah hendaknya tidak hanya menyentuh perasaan (hati), namun juga diharapkan dapat menyeru pemikiran (akal) seorang muslim agar ia dapat menjaga kuantitas dan kualitas ibadah.
Muhasabah hendaknya tidak hanya menyentuh perasaan (hati), namun juga diharapkan dapat menyeru pemikiran (akal) seorang muslim agar ia dapat menjaga kuantitas dan kualitas ibadah.
Mari bermuhasabah...
Download Materi - Meraih Syurga
overview :
- Berbakti kepada orang tua
- Pertanyaan mendasar manusia
- Kepribadian Islam
- Dakwah berjamaah
Posted by abu_razzan


.png)